Selamat Datang di Website Resmi Desa Rupe Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat Sistem Informasi Desa (SID) adalah Sistem Olah Data Berbasis Komputer yang dapat dikelola oleh Pemerintah Desa Berbasis Website Berita Terbaru Desa : Pemdes Rupe Salurkan Paket Bantuan JPS “Bima Ramah” -- selengkapnya...

Artikel

Sejarah Desa

18 Agustus 2017 12:20:11  DESA RUPE  72 Kali Dibaca 

Sejarah Asal Usul Desa Rupe.Desa Rupe pada dasarnya berasal dari dua perkampungan dibawah pimpinan Gelarang tersendiri, yang memiliki corak dan ciri khas adat istiadat yang berbeda. Kedua Perkampungan itu adalah kampung Kurujanga dan Kampung Rupe.


KURUJANGA

Kurujanga adalah sebuah kampung yang pertama kali bermukim di Pinggir Pantai tepatnya di Kalate Bajo sebelah timur Soro Kurujanga. Kemudian berpindah diatas dataran bukit doro kalendo, dan Selanjutnya pindah turun kesebelah barat laut kaki doro kalendo dipinggir lokasi persawahan so ladue dipesisir pantai teluk Waworada. Tempat tersebut sekarang disebut Hidi Rasa. Selanjutnya kampung tersebut, berpindah lagi ke Luru Mbolo, dan akhirnya bergeser lagi ke utara agar dekat dengan jalan raya. Dan sekarang kampung tersebut menjadi sebuah Dusun Yaitu Dusun Kurunjanga. Kemudian Dusun Kurunjaga di bagi menjadi dua Dusun yaitu : Dusun Sori Nocu dan Dusun Luru Mbolo.

Nama Kurujanga berasal dari dua kata, yakni Kuru dan Janga. Kuru berarti Kurungan, Janga berarti ayam. Kurujanga adalah kurungan ayam, yang maksudnya bahwa masyarakat disitu terdiri dari orang-orang yang gemar berternak ayam. Untuk keamanan ternak ayam dari musuh binatang malam, seperti Musang, mereka membuat kurungan berupa anyaman (Bahasa Bima: jura”) atau keranjang yang terbuat dari daun nipah.

Selain, sebagai masyarakat peternakpun, mereka sebagai masyarakat nelayan tradisional. Lama Kelamaan sekitar abad ke 19 kampung kurujanga sedikit demi sedikit pindah ke utara diantara perkampungan Karumbu dan Rupe. Wilayah pencaharian kurujanga menyebar ke selatan seberang teluk Waworada mulai so Sorobali, Soropeto, Karampi, Mamba NaE, Nanga Niu, Sido dan sampai ke tanjung Langgudu untuk Wilayah utara, sedangkan wilayah pantai selatan mulai dari so Mua, madobo, nipa, Woo lawele, kowo, dan kalongko.

Urutan Sejarah Kepemimpinan atau Gelarang Kurujanga di mulai, atau dibatasi sejak abad ke 18 sebagai berikut :


  1. Johan Ompu Tumbe (1880-1901)
  2. Abdul Latif Ompu Sanuria (1901-1921)
  3. Ibrahim ama Jawa (1921-1925)
  4. Talib ompu Fifa (1925-1932)
  5. Tayeb Abdul Latif (Ompu Biba) (1932-1949)
  6. H.Sulaiman Abdul Latif (1949-1953) yakni terakhir kurujanga.

Kepemimpinan yang dimulai pada tahun 1880-1932 masih diwarnai oleh gaya kepemimpinan feodalisme yang mengandalkan kekuatan fisik, karena pada jaman ini dipengaruhi oleh sistim yang dipraktikkan oleh kaum kolonialisme atau Negara-nagara yang menjajah. Kondisi kehidupan yang ada di kampong Kurujanga dimana rakyat selalu merendahkan diri kepada pemimpinnya karena merasa lemah baik fisik, maupun mentalnya lebih-lebih pengetahuannya masih rendah. Oleh karena pada jaman itu persaratan utama untuk menjadi seorang gelarang atau kepala desa adalah kuat fisiknya, mampu mentalnya dan karismanya untuk menguasai dan mengatur rakyat yang dipimpinnya.

Kepemimpinan yang dilaksanakan pada tahun 1932-1953 atas nama;

  • Tayeb Abdul Latif (ompu Biba 1932-1949)
  • H. Sulaiman Abdullatif 1949-1953.

Dua babakan sejarah kepemimpinan yang dilakukan oleh dua orang gelarang di atas sudah mulai dipengaruhi masuknya jaman kemerdekaan yang sistem kekuasaan pemimpin mulai diatur secara kondusif dan terbuka.

Peralihan sebagai babakan awal peraliahan sejarah kepemimpinan feodalisme dan otoriter menuju kepemimpinan yang demokratis. Mulai pada saat itu pula pembenahan dan penyempurnaan dilakukan menuju administrasi yang teratur.

RUPE

Asal mula perkampungan Rupe bertempat tinggal diatas dataran bukit Doro Umbu, kemudian pindah ke dataran rendah diantara So Doro Umbu dan Doro PanaTepatnya dipinggir Lokasi persawahan So Carigala yang disebut sekarang Rasa Toi. Lama kemudian atas kesepakatan bersama, mereka pindah ke sebelah barat Doro-Umbu, di tepi sungai Rue.

Rupe berasal dari kata Rapu. Rapu berarti Rapat yakni selalu dekat. Rapu, rapat atau selalu dekat adalah kebiasaan masyarakat pada saat itu untuk menanggapi atau membahas sesuatu yang akan diselesaikan melalui Rapu atau rapat, atau musyawarah bersama, terutama mendekatkan diri guna menerima perintah dari Baginda Raja Biia. Wilayah penyebaran pencaharian dou Rupe ke arah timur mulai dari So Sambane, Rore, Oi-Ua, Dumu, Kangga, Nggira sampai ke Tanjung Jampa dan Doro Toi

Urutan kepemimpinan atau gelarang Rupe dibatasi sejak akhir abad ke-18 yakni sebagai berikut:

  1. Jamal Ompu Fa 1885-1905
  2. Danggi Ompu Muna 1905-1913
  3. Saleh ama Haka 1913-1925
  4. Haji Rahe 1925-1946
  5. Usban Ompu sarume 1946-1953

Kepemimpinan yang dimulai pada tahun 1885-1946 masih mengandalkan kekuatan fisik, karena pada jaman itu dipengaruhi oleh keganasan Negara-nagara yang menjajah sistim kekuasaan pun belum teratur secara administrasi yang baik sedangkan kepemimpinan yang dilakukan oleh Usman Ompu sarume 1946-1953 sudah mulai ditata secara administrasi walaupun belum maksimal.


PENGGABUNGAN GELARANG KURUJANGA DAN RUPE

Latar belakang penggabungan kedua Gelarang tersebut yaitu adanya kebijakan pemerintah Swapraja Bima tahun 1953. Kedua Gelarang tersebut diputuskan menjadi sebuah gelarang saja, yakni mengambil nama Gelarang Rupe. Gelarang Rupe pada saat itu bernama MAN Ompu Sarume diangkat menjadi Ompu Tua (Gelarang) Desa Rupe, sedangkan Gelarang Kurujanga yang bernama H.SULAIMAN ABDUL LATIF diangkat menjadi Ompu Sampela (Wakil Gelarang) Desa Rupe. Kedua Gelarang yang digabung diatas memiliki ciri khasnya yang berbeda dan menempati pemukiman dan lahan yang tetap seperti keasliannya dahulu.


URUTAN GELARANG/ KEPALA DESA RUPE.

Setelah bergabungnya kedua Gelarang Kurujanga dan Gelarang Rupe, maka secara kronologis kepemimpinan Desa Rupe dipangku oleh :

  1. Jamal Ompu Fa (1885-1905)
  2. Danggi Ompu Muna (1905-1913)
  3. Saleh Ama Hawa (1913-1925)
  4. Haji Rahe (1925-1946)
  5. MAN Ompu Sarume, Gelarang desa Rupe (1953-1968)
  6. TG Drs. H.Bahnan M.Ali, dari Kalangan Guru Agama Islam (1968-1970)
  7. H.Sulaiman Abdul Latif, sebagai Wakil Kepala Desa merangkap Pejabat Kepala Rupe (1970-1973)
  8. H.M.Saleh Mansyur, BA, dari Kalangan Guru SD, terpilih (1973-1978)
  9. TG H.Abd.Muthalib Ali, dari kalangan Guru Agama Islam (1978-1985)
  10. Abdurrachman Djamaluddin, dari ABRI (1985-2001)
  11. Nukrah H.M.Toib, S.Sos (2002-2007)
  12. Nukrah H.M.Toib, S.Sos (2007-2012) 
  13. Drs. Mukhtar H. Idris (2013-2018)

“Semoga dengan adanya tulisan ini, kita sebagai generasi muda/penerus khususnya Masyarakat Desa Rupe Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima, dapat mengenal, mengetahui, memahami sejarah desa kita tercinta sehingga tidak terkikis jaman, bahwa Desa kita dibentuk melalui suatu musyawarah besar (mbolo ro dampa) oleh para tetua kita terdahulu dengan didasari  rasa persaudaraan dan kepentingan bersama”. 


(Sumber. Kepustakaan Nasional, Buku Mulok Kabupaten Bima melalui Pendekatan Metode Kepustakaan & Budaya serta Sumber Lisan/Cerita Rakyat)


 

Dikutip dari berbagai sumber. Penulis: Kamaruddin, S.Pd


- Semoga Bermanfaat- 

Untuk kesempurnaan, silahkan tinggalkan komentar pada kolom komentar dibawah ini

 

Muhammad saleh
16 November 2019 23:53:59
Sangat bermanfaat n terimakasih atas informasinya
Ahmad
10 September 2019 22:58:02
Sangat Bermanfaat

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Lokasi Kantor Desa

Alamat Jl. Lintas Tente-Karumbu
Desa Rupe
Kecamatan Langgudu
Kabupaten Bima
Kodepos 84171
Telepon +62 085337597447
Email desarupe@bimakab.go.id

Wilayah Desa

Aparatur Desa

Back Next

Layanan Mandiri

    Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Statistik Penduduk

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:190
    Kemarin:213
    Total Pengunjung:51.060
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.230.154.129
    Browser:Tidak ditemukan

Sinergi Program

Desarupe.web.id Bimakab.go.id
OpenSID Menuju Desa Digital Komisi Informasi NTB
kemendesa.go.id

Info Media Sosial

Komentar Terkini